//
you're reading...
Champions League, Italia

Ibra dan Jinx Liga Champions

Ibrahimovic selalu gagal juara LIga Champions

Karir Zlatan Ibrahimovic di level klub hampir dapat dibilang sukses, namun hanya satu yang belum dapat diraihnya, Liga Champions.

Hampir di semua klub tempat dirinya bermain, Ibra selalu berhasil mempersembahkan gelar juara. Saat bermain bersama Ajax, ia sukses memberikan tim ibukota gelar Eredivisie dua tahun berturut-turut sejak 2002. Tidak hanya titel liga, di level cup competition pun ia berhasil mempersembahkan gelar, yakni Piala Belanda atau KNVB Cup pada 2002.

Tiga musim yang sukses di Ajax, pemain asal Swedia ini pindah ke Italia untuk memperkuat Juventus pada musim 2004/2005. Bersama Bianconeri, Ibra sebenarnya juga berhasil meraih gelar Scudetto, sayang akibat skandal Calciopoli gelar itu dicabut dan membuat Si Nyonya Tua terdegradasi ke Serie-B. Tidak ingin bermain di level kelas dua Italia, Ibra pun menerima tawaran Internazionale Milan pada musim 2006/2007.

Ibra tidak berhasil di Liga Champions bersama Inter

Tiga musim bersama Inter pun, Ibra selalu berhasil membawa timnya meraih gelar Scudetto. Tidak puas hanya meraih kesuksesan di liga, Ibra pun mengincar gelar paling prestisius di Eropa, Liga Champions. Karena tidak pernah berhasil meraih trofi paling bergengsi tersebut bersama Inter, Ibra memutuskan untuk pindah ke Barcelona di musim 2009/2010.

Gagal juara Champions karena dijegal mantan klubnya

Keputusannya pindah ke raksasa Spanyol itu memang karena kehausannya akan gelar tertinggi di Eropa. Alih-alih meraih gelar piala Champions, pemain keturunan Bosnia itu justru digagalkan mantan klub yang ditinggalkannya, Inter, di semifinal. Lebih menyesakkan lagi bagi Ibra karena Inter sukses merengkuh gelar Liga Champions di musim tersebut, alias di musim dimana tepatnya Ibra pindah. Ia memang berhasil membawa Azulgrana meraih gelar juara La Liga, namun Liga Champions adalah targetnya.

Kembali gagal di Liga Champions

Perseteruannya dengan pelatih Pep Guardiola membuat Ibra pindah ke AC Milan musim berikutnya, dengan membawa ambisi yang sama, yakni gelar Liga Champions. Namun apa dikata, Ibra memang sukses meraih Scudetto bersama Milan, namun di hatinya yang paling dalam, asa juara Champions kembali hilang karena Rossoneri ditumbangkan Tottenham Hotspurs di babak 16 besar. Namun apa yang terjadi dengan klub Ibra sebelumnya, Barcelona? Klub Catalan itu justru berhasil juara ketika ditinggal Ibra.

Jika dilihat dari dua tahun terakhir, Ibra ibarat seperti menjadi jinx (pembawa sial) bagi tim yang dibelanya ketika berlaga di Liga Champions. Inter tidak berhasil meraih gelar Champions ketika dibela Ibra, namun ketika Ibra pindah, Nerazzuri langsung berhasil juara. Setahun berikutnya giliran Barcelona yang ‘buang’ sial dengan melepas Ibra, dan hasilnya mereka berhasil juara musim ini.

Faka tersebut memang tidak menjadi acuan konkrit, tapi jika dilihat sejauh ini jinx tersebut nampaknya tidak salah. Ibra harus membuktikan bahwa dirinya bukanlah pembawa sial. Setidaknya itu yang harus dilakukannya musim depan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Tulisan

Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

News Update

Photos

%d blogger menyukai ini: